Jumat, 08 Juli 2011

MAMA, IJINKAN AKU JATUH CINTA PADANYA

Begitu banyak jawaban untuk bermacam pertanyaan. Namun, aku seakan ratu untuk duniaku sendiri, sekarang. Kau tahu mengapa mataku tercipta dua? Itu karena saat mata kananku tertutup sebab silau kesibukan dan harta dunia, aku masih bisa mengandalkan mata kiriku untuk melihat dengan jelas bahwa masih ada pemandangan unik dan indah di pojok Casa itu. Sebelumnya tidak pernah kusadari.

Sebelumnya aku dipenuhi penat akan kebohongan dan ketidakfleksibelan hidup yang mungkin sok disiplin mengatakan peraturan-peraturan yang tercipta itu adalah juara dunia yang memang harus kamu akui bahwa hanya dia yang selalu menang. Kamu berlutut di bawahnya. tertegun akan letihnya hidup yang sampai sekarang tak kumengerti apa artinya dan sebentuk apakah tujuan hidupku ini. Seperti Cintaku yang entah akan berlabuh dan bergayut di pusara mana. Sekarang cintaku masih tersimpan erat di Pandoraku.

Aku bukan tidak pernah melihat sosok Catalonia, dan Barcelona. Dua sosok yang pernah aku lihat. Dalam pikirku mereka semua wanita yang biasa-biasa saja seperti kebanyakan sosok yang kulihat di Casa itu. Mungkin mereka wanita yang setidaknya memiliki harta dengan kesibukan kerjanya masing-masing sehingga membuat yang disekeliling mereka kesepian dengan jurang sosial yang saling menyudutkan. Bersiap-siap menjatuhkan para manusia yang bergelung di antaranya. Tidak ada yang menarik selain kemewahan mereka.

Kumasuki sebuah gerbang sebelah bartat Casa itu secara tidak direncanakan. Masuk bersama kata-kata 'Damn' untuk kehidupan. Monoton. Kaku. Pokoknya menyebalkan. Bersama Pipi yang kukendarai kami berjalan santai di jalan Casa itu. Aku merasakan Pipi sedikit malu akan usia serta penampilannya yang kusam dan berdebu. Maaf, Pi. Memang aku yang salah, bukan karena aku tidak punya waktu, kuakui aku males untuk mengantri di tempat pencucian motor. Kusemangati Pipi walau hatiku sendiri gelisah. Jangan tanyakan tujuan kami berdua apa, kan memang tidak direncanakan.

Gerbang terlewati, Bapak Satpam tersenyum. Manyusuri jalan ditengah dedaunan. Satu kata, Wow. Aku salah, aku dulu hanya melihat tapi tidak memperhatikan sosok yang bernama Catalonia itu. Sekarang berani kukatakan Dia cantik sekali, menawan. Dia berdiri di sana, semakin asri dan indah dengan pantulan lembayung senja. Dia berdiri di sana, ada pondokan di sudutnya yang dapat digunakan untuk berduaan memandangi sore hari, pondokan yang sarat dengan tanaman rambat yang tidak menakutkan namun malah sangat indah. Merambat pelan di atap pondokan itu. Di sudut jalan lain kuperhatikan, ada jejeran bangunan yang berdiri kokoh dan dipenuhi tanaman-tanaman kesukaan masing-masing penghuni gedung namun tidak angkuh. Catalonia, kau begitu cantik dan hangat. Sepertinya aku jatuh cinta padamu.

Pipi tetap setia menemaniku dengan persediaan makanan yang sangat menipis untuknya, jarum pengingat keberadaan bensinku mengarah ke E. Tidak apa, seakan itu yang dkatakan Pipi dengan lembut padaku. Catalonia cantik masih segar diingatanku saat aku sengaja mendekatkan diri dengan sosok yang dari jauh sudah terbaca "Barcelona". Itu dia, Barcelona. Semakin dekat, semakin keegoisanku memusara di hatiku. Celo, Apakah dari dulu sebenarnya kau sudah sangat menarik seperti ini? Seakan tak percaya, kuperhatikan lebih dalam. Barcelona berdiri di tempatnya berpijak, biasan mentari di senja hari semakin kejinggaan. Berdiri di sana, diteduhi banyak pohon-pohon cantik, seakan memang secara sadar mempercantik dan meneduhkan Barcelona yang dari namanya saja memang akan manjadi sorot unik. Pohon-pohon menjejerkan dirinya dengan setiap dari mereka kebanyakan berkalung benalu-benalu. Aku pikir benalu itu tidak bagus sama sekali ditambah hidupnya dengan mengambil jatah makan makhluk lain. Tapi, hari ini bersama kedekatanku dengan Barcelona ku sadari benalu itu lucu. Aku mencintai Barcelona. Dia sosok yang menarik. Kayaknya Pipi juga tertarik. ih, Pipi genit.

Aduh, bagaimana ini. Aku jatuh cinta pada dua sosok yang sangat menawan hati. Seketika memenjarakan cintaku dan tak mengembalikannya lagi padaku. uh...indahnya rasa cinta ini. Aku merasakan aku menjadi perempuan seutuhnya di dekat mereka dan aku mencintai dua sosok itu. Apa aku harus memilih? Bagaimana kalau dua-duanya saja? Kupilih Catalonia untuk menjadi pendampingku.

Kutetapkan hati. Aku akan jujur kepada mama, aku mencintai Catalonia. Aku ingin sekali memperjuangkan hidupku di kotakannya. Entah apa yang akan dilakukan mamaku setelah mengetahui kebenaran cinta dan tujuan hidup anak perempuannya ini sekarang. Aku tidak akan mundur. Aku mencintai Catalonia. Sungguh. Dia yang membuatku merasa hidup itu terlalu indah untuk selalu merasa letih dan terbebani. kukirimkan pesan :


Untuk mama tersayang, Yogyakarta, 11 November 2009


Mama, apa kabar? Aku ingat kamu pernah bertanya pada anak perempuanmu ini, apa aku pernah jatuh cinta yang sangat dalam. Di surat ini, aku ingin bilang, ma. Aku telah jatuh cinta pada satu sosok yang cantik, namanya Catalonia. Orang-orang biasanya memanggil 'Cata'. Dia cantik, mama.

Mungkin mama akan pikir ini cuma rasa sesaat. Aku cuma berharap jika nanti aku tidak menemukan sosok lebih dari Catalonia, maukah mama hidup denganku bersama Catalonia? Aku yakin bila mama bertemu dan memperhatikan setiap sudutnya, aku yakin mama bisa mengerti mengapa anakmu ini bisa jatuh cinta pada sosok cantik ini. Ma, aku sayang mama.

Aku akan memperjuangkan hidupku sekarang dan akan bersemangat menjalani dan mengahadapi tantangan hidup ini. Ma, kalau aku sudah berada di Cluster Catalonia dan membelinya dengan tanganku sendiri. Aku akan menjemput mama dan saat didepan pintu gerbang Cluster Catalonia ini, aku akan berkata,"welcome to our home in cluster Catalonia."

Peluk cium, your daugther.


on Thursday, November 12, 2009 at 4:05pm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar