Sabtu, 20 September 2014

Kotak

Di satu ruangan, kotak.

Di sudut kanan dari pintu sudut kiri terpampang tingginya harapan hidup.

Di depan langsung teronggok kotak nada yang mengalun petikkan gitar sayu.

Di tengah kan kau temui pembaringan yang membelai lelahmu.

Di sebelah pintu yang kau buka, tergantung lembaran benang halus nun kokoh menjaga silau masalah menembus kenyamananmu.

Di atas, langit-langit membisikkan kata-kata, tenanglah...di kegelapanpun sudah kuuntaikan penerangan untukmu.

Bergelung...
Terbaring...
Berdiam...
Kupejamkan mata.

Kudengar dan kurasakan belaian doa dan kasihMu.

Peluhku Kau simpan dan hitung diam-diam.
Dosaku Kau hapus dan ganti dengan cinta.

Ruangan ini...
Menjadi milikku,
Menjadi saksi,
Kau mencintaiku.

Selasa, 09 April 2013

Hanya aku dan impianku

Kutarik napas sembari mengingat,
Ah, sudah bulan April 2013, tepatnya tanggal 10 ya 24 menit lagi.
Andai ada yang bisa memelukku dan membuat lidahku bercerita...

Cerita tentang anak manusia,
Yang sudah berusia hampir seperempat abad,
Namun masih bisa untuk bermimpi,
Masih bisa untuk mempercayai keajaiban...
Yah, seperti seorang anak kecil yang di malam natal mempersiapkan kaos kaki merah,
Yang masih menaruh gigi tanggal di bawah bantal untuk peri datang mengambil memorinya.
Masih menulis doa tentang impian di malam natal.
Dan masih percaya Santa datang dan tidak pernah pergi dari hatiku.

Aku anak dari keluarga sederhana,
Orang tua yang cukup sederhana dalam mendidik anak-anaknya, hingga sarjana.
Orang tua yang cukup sederhana untuk tetap berada di rumah memperhatikan anaknya.
Orang tua yang cukup sederhana dengan caranya berkata,
Hingga anak-anaknya mengerti apa itu sopan santun, apa itu tanggung jawab,
Dan apa itu cinta.
Orang tua yang cukup sederhana dalam meminta.
Dan aku berharap, orang tua yang sederhana untuk percaya aku bisa.

Aku hanya memiliki beberapa teman yang membuatku nyaman,
Tidak banyak, tidak juga luar biasa, tidak juga dekat keberadaannya,
namun cukup sempurna untuk membuatku ada.
Jadi tidak heran, jika aku lebih merasa menulis cerita di sini lebih indah
Dibandingkan duduk di hiruk pikuk kota metropolitan bersama 'teman' yang sebenarnya
Tidak mengenaliku.

Aku percaya jika orang lain bisa, pasti aku pun bisa.
Bila orang lain menyerah, saatnya untuk aku percaya masih ada cara.
Di atas semua itu, karena aku percaya dengan apa yang tidak dilihat mata,
Yang tidak didengar telinga, dan yang tidak timbul di dalam hati,
Semua disediakan Tuhan.

Aku hanya percaya.
Aku hanya berusaha.
Dan aku hanya perlu tetap menjaga impian-impianku dalam doa.

Namun...
Kata mereka, aku terlalu idealis.
Kata mereka, aku tidak rasional.
Kata mereka, aku berbeda.
Kata mereka, aku hanya orang yang melankolis.
Kata mereka, aku pemimpi.
Kata mereka, aku pemberontak.
Kata mereka, aku labil.
Kata mereka, aku tidak menapak di realita dunia.
Dan...
Mereka berkata, aku gila dengan impianku.

Aku memang berjalan melawan kebiasaan yang ada dan
Itu terasa seperti,
Di jalan yang panjang dan lurus, aku seakan terlihat berjalan melawan arah arus.
Lama aku merasa seperti dan itu kadang menarikku ke dasar titik terendah percaya diriku.
Sampai malam ini...
Aku mulai mengerti,
Arus mana yang sebenarnya.
Arus di mana setiap impian kita sendiri berada bukan impian orang lain yang ditaruh di diri kita.



Rabu, 01 Agustus 2012

PUTIH

Ketika penatmu menggumam menggeliat
Ketika cinta berjalan menjauh
Ketika kehilangan mengisi seluruh airmatamu
dan...
Ketika tidak mampu satu-satunya yang menjadi buah pikirmu.

angkat langkahmu,
hapus airmatamu,
isilah air di gelasmu,
usap lembut pipimu,
usir semua penatmu...
dan pergilah arungi dunia, yang ternyata masih sangat luas di luar sana.
Masih sangat lebar jalan di depan sana.
Dan...
masih ada mukjizat selama kita percaya.

Jumat, 08 Juli 2011

Perjalanan katanya...

Kulihat waktu semakin berlari kencang meninggalkan ragaku.
Aku bukannya tidak mencoba untuk berlari...

Aku berlari namun terasa begitu lamban.

Pikiranku berputar cepat sekali menafsir begitu banyak hal akan kehidupan.
Senyum dan lelah pun kian berganti.
Tidak ada yang perlu disesali.

Pernahkah berpikir terkadang kita terlalu sibuk untuk memikirkan sesuatu
tanpa menggunakan kepolosan hati.

Yang aku ingini hanya sebatas pikiran dan dunia.
Siapa lagi yang akan memandang keinginan hatiku?
Kalau seorang aku pun mengabaikannya?

Sewaktu kecil, banyak orang berkata,"gapailah cita-citamu setinggi langit"
Namun ironisnya...
Saat kamu mulai dewasa begitu banyak sosok yang berkata,"Jangan terlalu berharap tinggi, kalau jatuh... sakit"

Teman, itu hanya segelintir dari masalah-masalah kehidupan ini.

Bukan pula semua masalah harus kita renungi sampai pikiran membeku.

Bukan itu.
Sama sekali bukan itu.

Ada hal yang jauh lebih penting yang bisa kita lakukan untuk dunia.
Mulailah dari diri kita ini.

"Lakukanlah semua yang akan kita lakukan dengan hati."



P.S: kadang kita butuh waktu untuk mendengarkan suara hati. Salam hangat.-Wei



on Wednesday, June 22, 2011 at 12:33pm

N.C

...kamu...

layaknya langit...
begitu banyak orang yang menyukai langit.
begitu banyak orang yang ingin menyentuhnya.

begitu juga aku.

dan mungkin langit itu ingin mendekap dirinya sendiri...
namun lupakah dia akan satu hal?

dia tidak bisa disentuh ataupun didekap.

...langit...

adakalanya untuk melihatnya saja tidak bisa, terlalu terang.
adakalanya pula langit membiarkanku melihatnya lebih baik saat kegelapan itu ada...malam hari.

langit memberikanku hujan...namun dia juga seperti lapisan yang menjagaku dari terik kehidupan.

...mereka...

berkata bahwa aku tidak akan bisa seiring dengan langit.
kata mereka...itu hanya impian semata.
kata cinta...itu akan menyakitkanku.

...dan aku...

kutanggalkan semua harga diriku,
semua penat yang kumiliki,

"aku menyayangimu lebih dari yang kamu pikirkan. Lebih dari kebohongan dan sakit yang ada."

"bisakah untuk tidak menjadi langit dan membiarkanku untuk meraihmu lebih dekat lagi?"

P.S: do you want to be "real mine"?

on Thursday, April 14, 2011 at 10:07am

Pero Me Ancuerdo De Ti

19 September 2010

Pero Me Acuerdo De Ti . . .
Lagu itu yang sama sekali baru dan sangat orisinil masuk ke telinga dan mengalir bersama waktu dan darahku. Bukan lagu baru, kupikir, karena itu kumpulan lagu yang lama ter-save di laptopku, folder yang bertuliskan “Christina Aguilera”, iseng-iseng ku buka foldernya dan kutekan “control-A” lalu klik mouse kanan lalu memilih “enqueue in winamp”. Sampai akhirnya dari semua lagu ada satu lagu yang dari awal sudah mengusikku, kudengarkan perlahan, lama kumainkan dan berulang-ulang dengan menyetelnya ‘repeat-track’, ada rasa yang sangat menusuk saat mendengar alunan ini. Bukan, bukan karena aku bisa mengerti artinya tapi sepertinya ada yang menyentil perasaanku .

Kunikmati terus menerus . . . lagu itu . . .

Berpikir… Buntu.

Entah berapa akan berapa kali kubiarkan dia mengalun, mungkin sampai pagi nanti. Menemaniku dalam pikiran yang hampa. Hampa? Wait . . .

Kalau hampa bukannya harusnya benar-benar kosong tanpa ada apapun, tapi ini beda, seperti ada bayangan. Tapi aku masih tidak bisa melihatnya dengan jelas, sulit sekali menyibak tabir di otak ini! Biasanya gampang sekali! Kali ini, tidak.

… … …

“Sudahlah sudahlah, aku harus mengetik tugas buat kerjaku besok, jadi lebih baik jangan aneh-aneh malam ini. Mungkin juga ini gara-gara factor hormone cewek yang bentar lagi mau haid.” Kataku dengan lemah dengan diakhiri hembusan yang aku tahu tidak melegakan.
Ku coba mengetik dan terus mengetik tapi rasanya sama sekali tidak ada -feel-. Ku hentikan tarian jemariku. Dengan mata masih menatap layar dan tanganku masih bertumpu di atas keyboard.

Bengong.

“Huh, apa sich maksud tuch lagu, bikin orang linglung aja nich malem!” omelku pelan sambil memonyongkan bibir yang gak tau deh emang udah monyong apa belum dari asalnya.

Tapi sungguh tidak ada niat sama sekali untuk mengalihkan ke lagu lain. “Rasanya seperti merindukan seseorang, tapi entah siapa. Seperti kehilangan sesuatu, dari dalam, tapi gak ngerti itu apa. Mau bertanya dan ngejelasin apa yang aku rasain, -but- gimana?Aku juga gak tahu dari mana mulainya dan bagaimana ngejelasinnya,” gumamku pelan.


Siapa-Apa-Mengapa . . .
#Pero Me Ancuerdo De Ti#

November's Tear

aku berada di duniamu.
entah mau kamu bawa ke mana...

aku tinggalkan sedikit ruang hatiku untuk diriku.
aku hanya menempati sedikit, hampir semuanya untukmu...

ku sisihkan waktuku untuk memperhatikanmu.
apa kamu sadari semua?

aku bahagia mendengar tawamu.
walaupun tawa itu bukan untukku.

aku terus melapangkan dada untuk berada di antara mereka.
meski hatiku terasa sakit...

aku mencoba bertahan.
aku berpikir mungkin kamu akan serius hanya denganku.

aku mengambil jalan seorang manusia bodoh untuk yang kedua kalinya.
kamu akan tertawa mendengarnya, namun aku jujur.

semua terserah pada hatimu.
pada cintamu.
dan pada pikiranmu.
hanya kamu yang tahu sampai kapan cinta itu akan berpihak padaku.

tapi tolong jangan sampai cinta itu ada, saat aku mulai melangkah pergi perlahan dari bayangmu.