Blog ini menceritakan berbagai perasaan-perasaan mungil yang hadir dalam hati seorang hawa.
Jumat, 08 Juli 2011
XIE XIE NIN XIANG XIN
Hari di mana ku sadari ada mentari yang begitu manis menyapaku. Saat aku melaju bersama pipi di atas aspal jalan layang. Sebelum aku lanjutkan lebih dalam, perlu diketahui pipi adalah kendaraan yang dapat menghantarku dengan dua kakinya yang bundar. Dua kaki yang berlapiskan karet, yang baru berumur muda beberapa bulan saja. Keturunan kulit hitam dengan tubuh yang langsing, sejenis bebek yang langsing dan yang jelas dia masih mengeluarkan asap sambil mengaum cempreng. Pipi motor 2 TAK.
Okay, aku bingung hanya karena melihat mentari pagi ini saja sudah dapat membuatku sangat bersemangat. Dia seolah-olah berkata padaku dengan kencang alias ‘berteriak’ kalau hari ini indah dan hangat. Baru kali ini aku bisa mengerti bahasa yang benar-benar asing, bahasa mentari.
Kulibatkan hariku dengan semangat dan senyum di tempat kerja. Sebelum akhirnya jam kerjaku habis bersamaan dengan datangnya hujan yang tak diundang. Aku melaju di bawah hujan rintik berusaha memenangkan perlombaan balap motor tapi lawanku kali ini adalah rintik hujan yang bisa kapan saja berubah menjadi hujan deras.
Aku kalah.
Di lap terakhir aku benar-benar terguyur olehnya. Tapi ada kepuasan tersendiri yang luar biasa saat kupalingkan wajah sedikit menengadah ke atas. Dia masih dapat terlihat dengan indah, gagah sekali sinarnya di tengah raih hujan yang mendesir tersentuh oleh angin. Dia masih mempercayaiku walau kali ini dia tidak berteriak tapi dia tersenyum dan berkata lembut, “kamu hebat.”
Malam menjemput . . .
Kokok ayam menyambut pagi disertai bau yang paling aku sukai, hio . . .
Hari ini yang kemarin aku namakan hari esok. Kali ini aku ingin melihat apakah dia manis seperti hari kemarin. Layaknya hari itu yang sebenarnya menjadi hari ini juga sewaktu kemarin hari. Melaju gesit di atas jalan layang yang sama.
Dia tersembunyi apa tersembunyikan?
Kabut menutupi hampir semua langit yang terlihat olehku. Hawa embun pagi menyapaku kali ini tidak hangat sama sekali.
Kamu di mana, mentari?
Apa kamu punya masalah pagi ini?
Atau kabut-kabut itu memaksamu untuk melenyapkan sinarmu?
Aku tetap melaju dengan otakku yang dipenuhi kekhawatiran. Ku tengadahkan kepalaku, dia tidak ada. Ku ambil nafas sambil berhenti di lampu merah, benar-benar persimpangan yang besar seperti persimpangan yang harus kita pilih dalam menjalani hidup kita. Tapi bukankah banyak yang melanggar lampu merah? Ehm, boleh juga kalau tidak ada polisi. Aku tersenyum simpul. Kurasa begitu juga kehidupan terkadang perlu melangggar rambu-rambu yang dibuat masyarakat saat tak ada polisi kehidupan yang melihatku. Hidup yang berani untuk berwarna.
Sekali lagi kupalingkan mataku melihat kiri dan kanan langit yang berkabut itu, dia tak nampak sama sekali. Sekali lagi ku perjuangkan harapanku pagi itu, ku pejamkan mataku sambil menengadahkan kepalaku benar-benar membentuk sudut 90 derajat lalu kubuka mataku perlahan. Dia tak jelas terlihat tapi sulit dibayangkan karena dari semua mega-mega yang berkabut, hanya ada satu wilayah kecil tepat di atasku mengeluarkan sinar kabur. Sinar kabur itu sekarang berbisik padaku, “terima kasih atas hari ini karena kamu juga mempercayai kalau aku tetap ada untukmu. “
Aku tersenyum sungguh itu adalah senyumku yang paling tulus seperti saat kulihat senyumku waktu kecil. Kuperintahkan tangan kananku untuk segera menjalankan pipi sembari hati berkata, “terima kasih kembali karena membuatku berani untuk mempercayaimu.”
on Thursday, August 20, 2009 at 10:57am
MONEY
Menandakan tanganku akan terbangun lalu menyambar suatu alat bernilai tidak lebih dari enam ratus ribu rupiah, berwarna hitam dengan tombol berwarna hijau, merah dan banyak tombol yang berangka nol sampai sembilan seperti kalkulator yang tidak mengikutsertakan sin, cos, tan dan berbagai constanta science lainnya. Namun tanganku memilih untuk tombol hijau. Hanya dengan menekan tombol hijau itu tersambunglah dua orang yang dipisahkan oleh selat sunda. Mama-aku. Berbeda pulau. Melewati beberapa propinsi. Bangka Belitung-DIY. Pangkalpinang(nama kerennya Pinkong City)-Yogyakarta(nama bekennya Kota pelajar). Dan berakhir di jalan Bukit Intan – dan ragaku baru saja bangun di jalan paingan yang terkenal dengan belakangnya perumahan Elite Casa Grande.
Halo…Kusapa dengan jiwa yang masih harus aku kukumpulkan karena sebagian masih dalam alam mimpi tak berbentuk. Seharusnya kuucapkan juga selamat pagi. Tapi tidak kulakukan. Tak terbiasa dalam kamus orang tuaku. Jadi tak kulakukan.
Pembicaraan yang mengambil tema pernikahan, tiket, dan Bali. Berakhir pada perkataanku yang sedang berpikir rasional karena aku belum mendapat ijin dari dosenku untuk meloloskan diri dari acara pembekalan KKN tanggal 11-12 Juni 2009. Pernikahan kakak sepupuku terjadi pada dua sepupu menyimpulkan bahwa terjadi bookingan pernikahan dua kali untuk aku hadiri. Tanggal 7 Juni dan 14 Juni. Pastinya 2009 di Jakarta. Setidaknya harus kulewati lagi kurang lebih dua propinsi untuk sampai di Jakarta. Jawa tengah – Jawa Barat. Bali, tiket yang telah dipesan oleh kakak sepupuku juga tapi bukan yang menikah untuk sekadar mengisi waktu jenuh di antara dua pernikahan itu. Tiket sudah dibeli walau kepastian dosen belum kudapati. Pasrah akan hangusnya tiket perjalananku jika dosen berkata tidak. Jam 12 nanti janji bertemu dengannya untuk tahu apakah tiket Baliku hangus atau tertelan oleh kehadiranku di tanah Bali.
Kupaksa angkat tubuhku yang kian melar dari hari ke hari. Entah apa karena sugesti karena kemarin tidak fitness atau memang aku terlalu sadar karena beratku enam puluh lebih sedikit. Jangan percaya akan kata sedikitku tadi. Menyambar gayung, bergerak menuju tempat yang paling kusukai untuk merenung. Kamar mandi. Bilik termenung. Air yang terbuang beberapa gayung, beberapa cc sabun yang akhirnya membentuk gelembung sabun membuatku terkenang akan mata kuliah tegangan permukaan oleh karena adanya pengaruh kohesi dan adhesi. Tema yang juga judul skripsi yang harus kuselesaikan.
Jam menunjukkan pukul 09.13. Rell…Rell…Firella Tanshella…
Suara yang paling exist kudengar dalam keseharianku. Deasy. Berteman dengannya memiliki banyak keuntungan yang sebanding dengan menonton TV kisaran jam ibu-ibu rumah sebelah. Orang yang paling update akan berita-berita dari mulai selebritis sampai penjagal nyawa makhluk hidup yang bernama manusia. Untuk semua berita-berita itu lebih aku kenal dengan sebutan gossip. Ku hentakkan kakiku dengan berikrar pada gaya gravitasi untuk menuruni tangga boardinghouseku alias kost. Dan tak mengucapkan selamat pagi. Tujuan utama adalah perpustakaan. Begitu banyak buku yang kami berdua pinjam. Tak kusalahkan jika IP-ku menunjukkan angka 3 ke atas tapi akan kupersalahkan jika menyimpulkan buku-buku itu aku baca dan pahami. Tidak. Cuma sebagai pegangan yang menganggur dan berkerja aktif jika dosen berkata untuk membuka halaman sekian dan sekian. Batas pengembalian buku yang terlambat dan dikenai denda. Keterlambatanku dan keterlambatan Deasy, keterlambatan kami yang disadari menunjukkan jumlah hari sebanyak 317 hari. Hari dikalikan dua ratus rupiah. Bernilaikan Rp 63.400,- . Denda yang harus kami berdua bayar yang juga sebanding dengan creambath untuk dua orang di salon samping kampus. Mungkin masih ada kembaliannya. Tapi kenyataannya kami habiskan untuk denda.
Jam pagi berganti jam siang. Menandakan matahari meninggi. Padahal Bumi yang berputar. Mengarahkan laju pikiranku untuk makan siang walaupun tidak diawali dengan makan pagi. Deasy sudah pulang dari tadi dan aku sendiri. Jangan terburu-buru mengasihaniku. Makan sendiri paling aku sukai. Mungkin terbiasa. Pastinya terbiasa. Dompet berbicara lain soal makanan. Karena ini jaman yang tidak mungkin lagi untuk berburu dan makan dengan tidak memakai alat tukar yang berbahan kertas dan logam, bertuliskan angka, bergambar, dan yang terpenting terbalut benang pengaman yang menyatakan kertas ini sebagai lembaran yang sah untuk jual beli dari yang bernyawa sampai yang memang tidak bernyawa. Uang.
Pertemuan dengan dosen menemui jawaban akan pengijinan yang ia keluarkan untukku. Bali tunggu aku. Tiket sebagai jelmaan uang tidak jadi hangus. Lega.
Selesai menukarkan uang untuk makan. Berpikir keras untuk segera angkat berdiri menjauh dari tempat dudukku dan berkendara pulang. Motor dengan plat nomor BN. Motor dari Bangka. Saat kusiap berkendara mataku tertuju pada speedometer. Bukan, bukan speedometer karena belum ada pergerakan motorku terhadap tempat motorku terparkir. Agak ke sebelah kanan, jarum penunjuk berisyarat seakan-akan dia tahu aku pasti mengerti isyaratnya sekalipun aku tidak pernah belajar bahasanya. Jarum penunjuk berada di huruf yang paling tidak diminati oleh banyak mahasiswa selain F, D dan C. Dia adalah E. Artinya aku harus menunggangi motorku menuju tempat yang berwarna merah dan putih dengan seragam pegawainya bertuliskan ‘Pasti Pas’ dan dilarang merokok. Mengisi bensin. Usai mengikuti pengaplikasian mata pelajaran PPKN yang selama ini kuterima. Antri untuk bahan bakar motorku, aku pulang dengan kelelahan dan kuambil inisiatif untuk berbaring dan akhirnya kebablasan. Ngorok. Tidak. Aku belum pernah ngorok. Belum pernah dengar langsung maksudku.
Detik menjadi menit pada hitungan keenam puluh dan berganti jam pada hitungan keenam puluh juga berdiam diri melihatku terkapar dengan wajah lugu tak berdaya. Entah ke mana perginya jiwaku.
Drrrrr….drrrrr….drrrrr
Itulah efek yang ditimbulkan oleh handphone yang ku aktifkan profil ‘silent’. Di menit awal pendengaranku akan getarannya, namun hanya sebentar. Ternyata alarm. Sejenak aku memusatkan pikiranku yang masih terhanyut oleh kantuk. Apa tanda alarm ini. Karena aku terlalu pintar maka kuambil langkah yang sigap dan cepat ke arah bilik termenung untuk mencuci muka serta gosok gigi. Aku mau pergi cari makan. Itulah alasan alarmku berbunyi. Dompetku berbunyi sendu lagi.
Menjelang pukul 11 malam.
Tek.Tik. Cek. Gek. Tik…
Sebuah ritual sehari-hari yang harus dilakukan sebagai refleksi kehidupanku setiap hari. Ketikan yang terlatih pada keyboard komputerku. Sekaranglah kutulis semua yang terjadi hari ini tertanggal 3 Juni 2009. Dan jika ditanya apa judul untuk cerpen hidup hari ini, dengan tegas kusebutkan ‘ Uang ‘. Judulnya Uang. Dari semua keseharian yang telah kulewati hari ini, dari pagi sampai malam hari, semuanya berpautan mesra dengan uang. Dan aku tahu mengapa aku mencetak begitu banyak angka di menit dan pernah sampai jam hanya untuk berada di kamar mandi kostku karena di sanalah aku dapat sejenak berbaikan dengan namanya ‘uang’.
Bilik termenungku.
TIME
Einstein . . .
Kata salah satu ilmuwan itu bahwa kita tidak hanya berhadapan dengan panjang tapi juga ruang dan waktu. Sekarang tidak hanya alisku yang berkerut tapi mataku sudah hampir juling karena dari tadi melihat deretan angka tadi yang kuabadikan dalam selembar kertas buram. Aku adalah salah satu anak manusia yang terdonori darahnya dari kecil oleh sosok kartun jepang yang terkenal dengan pintu kemana saja. Doraemon. Begitu banyak pertanyaan yang lewat di pikiranku menunggu untuk diambil dan dikaji lebih lanjut. Selang beberapa detik dengan sigap kuambil satu kalimat pertanyaan dalam otakku. ‘Apakah alat pengatur waktu untuk mengulang atau memajukan waktu itu ada dan bisa dibuat?’. Pertanyaan yang dangkal. Lalu kupikirkan lagi dan tiba-tiba satu pernyataan bergandeng erat dengan pertanyaan mengapung di permukaan pikiranku. ‘Jika alat itu ada pun, apa yang ingin aku lakukan dalam kehidupanku, ingin mengulang masa lalu ataukah ingin memajukan waktu ke masa depan, bagaimana jika dengan seenaknya bisa berbuat salah lalu memutar balikkan lagi dan menghapus semua kesalahan-kesalahan itu’ (aku tidak tahu kalimat ini harus diakhiri dengan tanda tanya atau titik).
Masih berpikir.
Sebelumnya, aku begitu banyak masa lalu yang aku anggap jelek dan berharap bisa memperbaiki dengan mengulang waku. Tapi serasa tertampar, apa setelah aku mengulangnya dan memperbaikinya, semuanya akan baik-baik saja, setidaknya lebih baik dari yang sekarang aku miliki? Dan apakah setalah semuanya terulangi aku akan berkata puas?
Dasar diriku yang adalah manusia . . .
Semuanya jadi tidak terlihat mudah dari sudut pandang manusia seperti diriku yang selalu mengambil keputusan dalam bayang puas atau tidak puas.
Satu hal yang baru kusadari bahwa dari tadi aku berpikir sampai sekarang aku masih berpikir, waktu terus berjalan angkuh. Aku heran ada sesuatu yang begitu cuek dan angkuh. Terus berlalu walau dia tahu banyak orang memerlukannya sejenak untuk berhenti dari kepenatan dunia, yang dengan cerdasnya dibuat oleh manusia-manusia itu sendiri. Aku tidak tahu apakah di kerajaan para hewan juga merasakan hal yang sama kerajaan para manusia. Angkuh sekali. Berjalan tanpa ada sesaat menoleh ke belakang atau pun melirik ke kanan dan ke kiri. Padahal banyak yang mengejarnya seitap hari tapi tetap saja tidak dia hiraukan. Kadang terasa dia berjalan berirama tenang, terkadang terasa seakan aku juga ikut berlari mengejarnya. Sampai di titik penantian sungguh terasa dia berjalan sangat lama, langkah-langkahnya begitu berat, ingin sekali ku tarik dia agar cepat berjalannya. Namun dari hari ke hari tetap saja dia angkuh sekali. Siapa sich yang menamainya ‘waktu’?
Silsilah keluarga sang waktu.
Sebenarnya siapakah orang tuanya? Di manakah tempat kelahirannya? Mengapa dia tidak bisa mati? Karena dari dulu dia hanya berjalan saja dengan angkuh seakan-akan ingin menunjukkan pada dunia dan seisinya bahwa hanya dialah yang akan hidup terus dan awet muda di kalangan usia-usia para manusia. Dia menjadi saksi dari berbagai hal, dari saat suara tangis seorang bayi menghirup oksigen dunia fana ini sampai bayi tersebut menjadi seorang manusia yang tidak berdaya dan menghembuskan napas penghabisannya. Saat anak manusia merasakan indah dan rapuhnya jatuh cinta, saat orang-orang meneteskan airmata duka ataupun suka mereka. Sungguh sombong dirinya menjadi saksi begitu banyak hal tertawa, bersua, bersuka, berduka sampai kalanya ada yang berdarah. Dia menjadi saksi yang tidak mau bersuara.
Jika kamu punya hati sedikit saja maka ingatlah dari begitu banyak manusia yang tak menyadari kehebatanmu, ada seorang gadis yang tidak ingin mengulang dan memperbaiki masa lalunya ataupun memburu masa depannya karena dia ingin berdamai dengan dirimu dan menganggapmu sebagai teman sejatinya sampai kulitnya keriput dan tulang-tulangnya tak sekokoh saat dia berlarian dengan bola basketnya sampai akhirnya dia pun menghembuskan simfoni syukur karena kamu menemaninya dan mau menjadi temannya yang baik dalam hidupnya yang hanya sekali di tubuh ini.
“Jadilah temanku, waktu.”
DINGINNYA IBUKOTA
Ku pelajari nasib yang membawaku ke alunan kota Jakarta. Tak kupelajari secara detil seluruh kehidupan Jakarta hanya sekilas pandang dari taxi yang kutumpangi. Itu saja cukup untukku melampaui semua cerita yang melintas di benakku mengenainya. Dingin. Satu kata tunggal yang menginspirasiku saat menginjakan kaki di tanah Metropolitan ini.
Berbaris bangunan-bangunan di tengah kesadaran para manusia Jakarta. Sejenak semuanya membenamkan angan-anganku ke prajurit yang berbaris di kemiliteran, itulah bangunan Jakarta tapi kalau di kemiliteran semua pakaiannya sama, tapi tidak dengan bangunan-bangunan ini. Bangunan-bangunan ini bisa menjadi sebuah pengartian atau jawaban yang tepat bila ada orang yang bertanya apa arti dari kasta pada jaman kerajaan dulu itu? Bangunan itulah yang kulingkari di lembar ujian pemahamanku mengenai Jakarta.
Pojok Jakarta yang sering orang-orang lewati saat mereka menunggangi kendaraan berempat mereka dengan tanda membayar dulu lima ribu lima ratus untuk melaluinya, tol dalam kota. Pojokan itu membentuk notasi yang naik turun, terlihat perumahan kumuh yang bergandeng dengan bangunan lain bernotasi tinggi. Berdekatan bukan mengartikan adanya kehangatan dan keakraban dari umat yang meninggali tempat itu.
P-U-Z-Z-L-E…
Susunan. Bukan. Layaknya tempat tinggal yang di huni banyak perbedaan dari berbagai segi kehidupan. Banyak kisah dan penghentian nafas perjuangan untuk menelusuri kehidupan ini. Rumah susun, itulah julukan indah yang dikenal orang-orang termasuk diriku. Perjalanan memapahku melihat rumah susun yang bergelantungan pakaian-pakaian, entah itu pakaian yang sudah lama atau yang baru mereka beli. Cat yang sudah luntur menambah keenggannan mata untuk memperhatikannya. Dingin, saat kamu melihatnya dari kacamata pojok kesuksesan orang-orang Jakarta.
Apart-men-t…
Sama seperti pembacaan saat kata-katanya berdiri single. Ada yang membatasinya. Banyak kemewahan yang dihantar dengan tebusan uang yang menjadi reinkarnasi dari peluh keseharian. Aku mencari kata yang cocok untuk mengukir kehebatan sekaligus kekurangannya, bagaimana dengan kehidupan yang terkotak-kotak oleh emas. Berharga tinggi namun tidak ada yang membuatnya berjiwa alami. Dingin, itulah yang ingin kusampaikan lagi.
Taxi yang kutumpangi tetap berjalan terus di jalan tol yang seharusnya tidak macet namun kebalikannya ada kemacetan yang terjadi entah mengapa. Kulihat ada papan yang bertuliskan jaga jarak aman kendaraan anda. Tidak ada lagi jarak yang akan dipedulikan oleh para pengendara-pengendara ini karena sesungguhnya mereka tidak mau mengenal orang lain. Di lihat dari klakson yang sudah seperti melodi yang sangat disukai. Apa yang mereka inginkan dari suara klakson-klakson itu, tak tahukah mereka walaupun mereka mengklakson bersamaan dan beratus-ratus kali sehingga membuat suatu orchestra, yang mungkin Beethoven pun akan menangis mendengarnya. Bukan terharu. Tapi meringkuk sedih. Padahal mereka tahu kalau kendaraan yang di depan mereka itu tidak mengikuti prinsip gerak jalan namun lebih menyukai hukum kelembaman, mengaum di tempat.
Kacang dan air mineral...
Bisnis yang luar biasa yang dilakukan oleh banyak anak kecil di jalanan. Dari semua yang kulihat hanya satu dari mereka yang memakai alas kaki. Masuk ke logika fisika, jalan beraspal itu sudah pasti panas karena dikenai cahaya matahari. Belum lagi tambahan bumbu gesekan aspal dengan ban-ban kendaraan yang selalu kerja rodi tanpa mereka bisa berkata cukup, aku lelah. Para penunggangnya tidak cukup sensitive dan cerdas mengenai kebotakan dini yang telah terjadi pada pasangan setianya itu, ban botak. Tidakkah kaki-kaki kecil itu melepuh di hamparan pengorbanan untuk hidup di sana?
Jembatan layang dan tol yang berterbangan di Jakarta seperti memaki kasar kepada dunia karena begitu banyak rumah persinggahan para manusia yang berada di bawahnya. Anak kecil berlarian sambil tersenyum menggiring bola yang dimainkan dengan cukup lihai. Menggiringnya dan mengoper ke temannya. Semua itu berlangsung di samping istana kesederhanaan suatu kemiskinan mereka. Taman bermain di bawah jembatan layang dan tol Jakarta. Adakah semua memperhatikan senyum mereka itu?
Bercuaca panas beriklim hati dingin. Sampai kapan mereka menyadari betapa kokohnya es yang mengganjali hati mereka layaknya tumor yang sewaktu-waktu dapat menjadi kanker yang tidak bisa lagi menyadari kesembuhan. Hanya memakan sel-sel kehidupan orang lain hanya untuk kehidupannya sendiri.
Dingin . . .
“Maukah kamu membelikanku selapis tipis saja kain?”
Friday, August 14, 2009 at 11:40am
KEBAHAGIAAN
Kebahagiaan terpahami di lilin tiup berangka 20.
Bukan benda.
Bukan harta.
Bukan cinta.
Bukan kata.
Dia adalah perjalanan.
Bukan waktu yang menjawab.
Bukan cinta yang dijawab.
Bukan pertanyaan yang harus terjawab.
Perjalanan mendapatkan bahwa diri bahagia.
Untuk 'hari ini'.
Besok juga akan menjadi 'hari ini'.
Lusa juga akan menjadi 'hari ini'.
Kemarin juga telah menjadi 'hari ini'.
Jadi,
kebahagiaan bagiku bahwa hari ini aku bisa berkata 'i am happy today'
dan memiliki semangat hidup untuk hari esok agar
besok yang akan menjadi 'hari ini' aku bisa berkata 'i am happy'.
Kebahagiaan adalah suatu rangkaian dari rasa perjalanan kehidupan setiap pribadi untuk berkata:
"aku bahagia hari ini."
25-06-'09
PESAN SEDERHANA DARI SEORANG MAMA
Puisi tak berjudul
Ingin kukirim hadiah
Tapi mama tak punya
Apalagi permata
Mama tak berdaya
Tapi di sini ada
Sekotak cinta
Terikat pita merah jingga
Mama tak tahu apakah kau suka
Kalau tak punya arti apa-apa
Buang saja lewat jendela
Dan mama tak akan marah
Mama pasrah
Karna kupunya
Hanya cinta
Yang tak bermakna apa-apa
Buat:Cau wei
Selamat ultah smoga dalam lindungan Tuhan dan sukses dalam cinta dan karya.
Puisi ini puisi tak berjudul karna tak punya arti apa-apa.
From: wo de mama
P.S : THANK'S MOM.
2010
PESAN SEDERHANA DARI SEORANG MAMA
Ingin kukirim hadiah
Tapi mama tak punya
Apalagi permata
Mama tak berdaya
Tapi di sini ada
Sekotak cinta
Terikat pita merah jingga
Mama tak tahu apakah kau suka
Kalau tak punya arti apa-apa
Buang saja lewat jendela
Dan mama tak akan marah
Mama pasrah
Karna kupunya
Hanya cinta
Yang tak bermakna apa-apa
Buat:Cau wei
Selamat ultah smoga dalam lindungan Tuhan dan sukses dalam cinta dan karya.
Puisi ini puisi tak berjudul karna tak punya arti apa-apa.
From: wo de mama
P.S : THANK'S MOM.