Jumat, 08 Juli 2011

take a breath

Perhatikan sekelilingku, semuanya berdiri berbeda. Jika para ilmuwan melihatku maka kemungkinan mereka akan bertanya padaku, untuk apa kamu melakukan sesuatu yang sudah pasti tidak akan bisa bersatu. Aku sedang berusaha menyatukan kutub utara dengan kutub utara dua magnet yang ada di tanganku. Logikaku berucap tidak akan bisa namun hati kecilku bergumam mengapa tidak bisa. Apa karena mereka sama. Apa karena takdir yang memerintahkannya untuk tidak bersatu. Atau, mereka pernah mengikat janji untuk akan selalu saling menjauhi.

Lembar jawaban yang objektif bertuliskan true or false. True. False. Lembar kehidupan manusia juga bertuliskan, benar - salah, baik – buruk, indah – jelek, hitam - putih. Lalu mengapa ada kata ragu-ragu, sedang-sedang saja, lumayan, dan warna - warni.

Kutub negatif dan positif dalam peralatan elektronik. Aku mencoba menghubungkan yang positif dengan yang positif dan sebaliknya. Jawabannya tidak ada reaksi yang terjadi.

Aku ada di sini sedang menulis lembar ini karena papa dan mama. Jika papaku ada dua, hanya papa dan papa, apakah aku ada. Bila aku hanya punya dua mama, mama dengan mama, apakah aku nyata. Apa tanganku yang belajar menulis tentang apa yang aku pertanyakan dari awal sampai akhir itu ada.

Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaanku. Padahal sudah dua puluh tahun aku menjalani kehidupanku tapi semua orang hanya menerima semua hal itu dengan biasa-biasa saja tanpa ada yang berusaha mencari rahasia semua itu. Aku tidak mengatakan bahwa semua itu salah atau semua hal itu benar. Aku tidak juga bertanya pada dirimu mana yang benar dan yang tidak.

Bagaimana kamu akan tahu jawaban pertanyaan-pertanyaanku itu kalau dari tadi sampai sekarang saja kamu tidak menyadari bahwa semua pertanyaan itu tidak diakhiri dengan tanda tanya. Bagaimana kamu akan bertanya padamu kalau hal itu saja kamu tidak menyadarinya.

Aku bertanya pada dia yang menyadari tidak adanya tanda tanya. Kamu yang aku tanyakan, jangan merasa pintar karena menyadari bahwa semua pertanyaan tadi tidak menggunakan tanda tanya karena walaupun kamu menyadari itu, tidak berarti bisa menjawabnya. Mengapa. Karena tetap saja kamu akan mengambil hukum-hukum atau prinsip-prinsip orang-orang yang dahulu mempostulatkan kalimat-kalimatnya itu baru kamu menguraikannya berdasarkan itu.

Ambillah waktu sejenak saja, di manapun kamu berada saat ini. Berdirilah dan lihat sekelilingmu ada apa saja di sana. Jangan berkata tidak ada apa-apa. Bagaimana bisa ada di sana? Apa manfaat keberadaanya? Dan sudah berapa lamakah dia ada di dekatmu tapi tidak kamu sadari bahwa suatu waktu kamu dan dia akan berpisah? Apakah kamu yang pergi atau malah dia yang akan pergi darimu? Apa perasaanmu terhadapnya sekarang bila semua yang kamu lihat di sekelilingmu itu menjauh darimu, setiap yang kamu dekati karena baru saja menyadari keberadaanya, pergi, semua hilang begitu saja? Sampai tidak ada kesempatan sekejap saja untuk berkata kamu menyayangi para benda atau manusia yang ada di dekatmu itu.

Sekarang kamu juga tidak bertanya balik padaku. Mengapa semua pertanyaanku tadi tidak kuakhiri dengan tanda titik tapi dengan tanda tanya.

Bukan karena kamu bodoh.

Bukan karena kamu tidak proaktif.

Bukan karena kamu tidak teliti.

Bukan karena kamu adalah manusia biasa.

Bukan karena kamu tidak tahu.

Tapi karena tanpa tanda titik dan tanda tanya yang mengakhiri semuanya kamu tetap mearasakan bahwa kalimat itu memang sedang menanyakan sesuatu padamu. Tidak terlalu penting apa yang sudah digarisbesarkan di kehidupan ini karena semuanya akan kita tinggalkan, yang penting bahwa kita tahu apa makna dari semuanya ini.

Makna tentang waktu.

Makna tentang papa-mama.

Makna tentang sahabat.

Makna tentang air mata dan tawa.

Makna saat kamu tidak pernah menyadari aku tahu kamu ada untuk sesuatu yang lebih berharga. Tersenyumlah untukku yang tidak kamu kenal. Tersenyumlah penuh ketulusan saat kamu bertemu dirimu sendiri di dalam cermin dan mimpi.

Salam dari seseorang sahabat barumu. Aku.


on Friday, August 21, 2009 at 2:39pm

ck...ck...ck

Pukul . . .

Saat ini ditunjukkan oleh jarum pendek yang berada di antara angka enam dan tujuh, jarum yang lebih panjang darinya berayun berirama sealur dengan jarum ketiga yang dikenal dengan detikkannya. Tidak aku sebutkan waktu itu tepatnya jam berapa karena memang tidak ada jam yang tepat menunjukkan sesosok waktu, setiap jam diatur oleh setiap orang yang berbeda. Setiap orang berbeda menafsirkan waktu mereka. Ada yang suka dengan jam yang lebih cepat dibandingkan dengan waktu pada jam temannya dan juga ada yang memperlambat waktu pada jamnya. Entah untuk alasan apa. Semua orang berbeda. Dan salah satu hal yang tidak pasti bagiku di antara banyak ketidakpastian di hidupku adalah waktu.

Okay, sudah dulu untuk membahas masalah waktu. Yang pasti aku duduk di dipan yang berderik ketika aku mau menduduki dan bergerak sedikit saja di atasnya. Dipan itu hanya salah satu tempat duduk yang diperuntukkan oleh Omahyoga.Tempat yang sering aku kunjungi.

Omahyoga . . .

Terpikir sebagai suatu tempat untuk berelaksasi, iya kan? Hanya karena ada kata Yoga yang untuk masa sekarang katanya bisa membuat pikiran kita fresh. Yang pasti aku belum pernah mengikutinya. Kesimpulannya aku bukan di tempat yang menawarkan padaku kegiatan Yoga. Lebih pada menjadikanmu sebagai anggota yang mengasihi dan mencintai makhluk hidup yang lain selain makhluk yang mengaku memiliki akal budi namun selalu tak menyadari bahwa perilakunya lebih sering menunjukkan tidak berbudi. Contohnya aku. Tenang, aku tidak mengelak. Dan sekarang aku tertawa geli waktu menulis kalimat tadi. Kesadaran yang memalukan. Omahyoga menawarkan makanan yang tidak ada unsure Hewani. Rumah makan vegetarian. Aku menyukai tempat ini bukan karena aku juga vegetarian tapi aku mencoba untuk vegetarian. Coba cerna kalimat itu. Sudah? Mengerti? Aku juga tidak mengerti.

Geleng-geleng.

Begini, aku mempelajari sesuatu dari huruf kanji Cina. Pinyin itu adalah Rou chi rou. Yang artinya adalah daging makan daging. Aku belum pernah mendengar pengertian itu selain jeruk makan jeruk. Setelah ada beberapa teman yang menjelaskan padaku dari mulai bidang yang menyangkut perasaan menuju bidang science dan sampai pada tahap yang berbau rohani. Bagaimana perasaan ayam dan teman-temannya yang lain yang tidak bisa berkata pada kita rasanya disembelih? Apa sama sekali kita tidak ada perasaan bersalah? Pastinya aku ada perasaan bersalah. Lanjut pada berberapa pertanyaan menyangkut perasaan. Dilanjutkan pada tahap science, yang mengatakan bahwa struktur gigi dan usus kita sebenarnya menunjukan kita adalah herbivora.

Nah, sampai pada tahap dalam lingkupan rohani. Contohnya, dalam suatu paragraph dikatakan bahwa Tuhan memberikan kepada kita segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji, itulah yang menjadi makanan kita. Tetapi pada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, diberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya. Begitulah yang diperdengarkan padaku salah satu bagian dari paragraph mengenai Kejadian. Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benakku dan pastinya benakmu juga. Aku memahami segala yang dijelaskan oleh temanku. Setidaknya aku mencoba dan melakukannya. Sekaligus upaya untuk menghemat jatah uang bulanan anak kost sepertiku. Tak lupa juga menjadi keuntungan untukku menurunkan berat badanku. Aku rasanya mau tertawa saat menuliskan hal ini. Jadi ketahuan kalau aku sedikit kurus banyak gemuknya. Sekarang aku tak hanya mau tertawa tapi memang sedang tertawa.

By the way, makananku yang kuharapkan datang belum datang juga dan yang datang adalah satu laki-laki yang membawa gitarnya yang kupastikan itu tidak disetel dulu senarnya. Disusul seorang laki-laki lagi yang langsung berdiri disampingku dan mendoakanku supaya sukses tapi jika aku memberikannya uang minimal seribu. Itu yang bisa aku tangkap dari kalimat doanya. Aku tak merasa aku seorang artis tapi hari itu bisa dikatakan aku menjadi orang yang sering dikunjungi orang-orang dan sekarang yang berdiri di sampingku adalah seorang ibu yang menggendong anaknya menjulurkan tangannya ke arahku dan temanku yang posisinya duduk di hadapanku. Ndoel, biarkan aku perkenalkan nama temanku itu pada kalian. Sopan santun. Aku berpikir, apakah dengan aku pindah tempat duduk yang agak berada lebih dalam semuanya akan berkurang dan aku menjadi orang biasa bukan lagi seorang yang artis dalam pemaknaanku sendiri.

Pindah tempat duduk.

Baru sekitar beberapa detik duduk, sekarang tidak hanya orang-orang dewasa yang ingin bertemu denganku tapi seorang anak kecil menadahkan tangannya tepat di hadapan wajahku. Berlalu adik kecil, sekarang seorang yang laki-laki namun tidak suka saat dipanggil ‘mas’. Dengan pakaian rok pendek dan suara agak berat dia bernyanyi dan pada akhirnya tempat tadahan uang dari potongan bawah botol air mineral ditujukan sekarang bukan di depan wajahku tapi di antara mata kanan dan telingaku. Alhasil jika kuhitung dengan harga makanan yang kami pesan itu sudah bisa membayar setengahnya.

Kami pengunjung di sana khususnya aku dan Ndoel, bukannya tidak tulus, tapi sekarang aku bingung apakah aku bisa tenang karena dari sebelum makanan datang sampai makanan kami masuk semua ke dalam perut sesibuk itu pula tadahan-tadahan menghampiri kami. Bukan juga pelit tapi kami memang harus dengan tegas mengangkat tangan kami menandakan kami tidak bisa memberikan uang pada kalian. Akhirnya, perut kenyang namun hati tambah lapar sampai membuat pikiranku tenggelam antara gerbang emosi dan usaha penenangan diri dengan menyelami pemaknaan dalam kehidupan orang-orang tadi. Aku mengambil keputusan untuk cepat meninggalkan tempat itu dan terpaksa merebut waktu Ndoel yang sedang membaca majalah untuk segera ‘cabut’ dari tempat itu.

Aku perlu aroma terapi.

Aku ambil langkah-langkah memasuki suatu Plaza yang didalamnya aku yakin ada yang menjual aroma terapi, aku membutuhkannya. Setelah bertanya-jawab dengan penjualnya maka aku memutuskan untuk membeli aroma terapi yang bertuliskan MAC CHAMPA. Ku bawa pulang dengan perasaan agak tenang karena setelah sampai kos aku akan menaruhnya di atas tatakan kecil dan tiduran dengan aroma yang akan membawa pikiranku ke arah yang hanya bertuliskan bebas hambatan.

Di Kamar kos.

Dengan semangat ku taruh semua bunga kering yang beroma terapi itu dengan harapan yang besar bahwa akan aku dapatkan juga aroma yang semerbak. Tebak! Aroma itu hanya bisa tercium jika hidungku berjarak kira-kira 4cm dari benda itu. Oh! Aku mendapatkan diri bahwa sekarang aku tidak lagi berdiri di antara gerbang emosi dan gerbang penenangan diri tapi memang sudah masuk ke dalam dunia emosi. Aku emosi. Ku sadari mulutku bergumam tidak jelas. Sekarang aku berjalan terus menapaki jalur kepasrahan dengan didampingi setia oleh tawa kecil Ndoel yang melihatku di jalur kecewa.
Dasar nakal. Dia menertawaiku.

Hari ini berawal pada posisi dan ditengahi oleh asumsi lalu berakhir pada emosi. Melelahkan. Sadar, yang aku butuhkan hanya tidur.

Zzzzzzzzz . . .



on Thursday, August 20, 2009 at 11:12am

ck...ck...ck

Pukul . . .

Saat ini ditunjukkan oleh jarum pendek yang berada di antara angka enam dan tujuh, jarum yang lebih panjang darinya berayun berirama sealur dengan jarum ketiga yang dikenal dengan detikkannya. Tidak aku sebutkan waktu itu tepatnya jam berapa karena memang tidak ada jam yang tepat menunjukkan sesosok waktu, setiap jam diatur oleh setiap orang yang berbeda. Setiap orang berbeda menafsirkan waktu mereka. Ada yang suka dengan jam yang lebih cepat dibandingkan dengan waktu pada jam temannya dan juga ada yang memperlambat waktu pada jamnya. Entah untuk alasan apa. Semua orang berbeda. Dan salah satu hal yang tidak pasti bagiku di antara banyak ketidakpastian di hidupku adalah waktu.

Okay, sudah dulu untuk membahas masalah waktu. Yang pasti aku duduk di dipan yang berderik ketika aku mau menduduki dan bergerak sedikit saja di atasnya. Dipan itu hanya salah satu tempat duduk yang diperuntukkan oleh Omahyoga.Tempat yang sering aku kunjungi.

Omahyoga . . .

Terpikir sebagai suatu tempat untuk berelaksasi, iya kan? Hanya karena ada kata Yoga yang untuk masa sekarang katanya bisa membuat pikiran kita fresh. Yang pasti aku belum pernah mengikutinya. Kesimpulannya aku bukan di tempat yang menawarkan padaku kegiatan Yoga. Lebih pada menjadikanmu sebagai anggota yang mengasihi dan mencintai makhluk hidup yang lain selain makhluk yang mengaku memiliki akal budi namun selalu tak menyadari bahwa perilakunya lebih sering menunjukkan tidak berbudi. Contohnya aku. Tenang, aku tidak mengelak. Dan sekarang aku tertawa geli waktu menulis kalimat tadi. Kesadaran yang memalukan. Omahyoga menawarkan makanan yang tidak ada unsure Hewani. Rumah makan vegetarian. Aku menyukai tempat ini bukan karena aku juga vegetarian tapi aku mencoba untuk vegetarian. Coba cerna kalimat itu. Sudah? Mengerti? Aku juga tidak mengerti.

Geleng-geleng.

Begini, aku mempelajari sesuatu dari huruf kanji Cina. Pinyin itu adalah Rou chi rou. Yang artinya adalah daging makan daging. Aku belum pernah mendengar pengertian itu selain jeruk makan jeruk. Setelah ada beberapa teman yang menjelaskan padaku dari mulai bidang yang menyangkut perasaan menuju bidang science dan sampai pada tahap yang berbau rohani. Bagaimana perasaan ayam dan teman-temannya yang lain yang tidak bisa berkata pada kita rasanya disembelih? Apa sama sekali kita tidak ada perasaan bersalah? Pastinya aku ada perasaan bersalah. Lanjut pada berberapa pertanyaan menyangkut perasaan. Dilanjutkan pada tahap science, yang mengatakan bahwa struktur gigi dan usus kita sebenarnya menunjukan kita adalah herbivora.

Nah, sampai pada tahap dalam lingkupan rohani. Contohnya, dalam suatu paragraph dikatakan bahwa Tuhan memberikan kepada kita segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji, itulah yang menjadi makanan kita. Tetapi pada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, diberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya. Begitulah yang diperdengarkan padaku salah satu bagian dari paragraph mengenai Kejadian. Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benakku dan pastinya benakmu juga. Aku memahami segala yang dijelaskan oleh temanku. Setidaknya aku mencoba dan melakukannya. Sekaligus upaya untuk menghemat jatah uang bulanan anak kost sepertiku. Tak lupa juga menjadi keuntungan untukku menurunkan berat badanku. Aku rasanya mau tertawa saat menuliskan hal ini. Jadi ketahuan kalau aku sedikit kurus banyak gemuknya. Sekarang aku tak hanya mau tertawa tapi memang sedang tertawa.

By the way, makananku yang kuharapkan datang belum datang juga dan yang datang adalah satu laki-laki yang membawa gitarnya yang kupastikan itu tidak disetel dulu senarnya. Disusul seorang laki-laki lagi yang langsung berdiri disampingku dan mendoakanku supaya sukses tapi jika aku memberikannya uang minimal seribu. Itu yang bisa aku tangkap dari kalimat doanya. Aku tak merasa aku seorang artis tapi hari itu bisa dikatakan aku menjadi orang yang sering dikunjungi orang-orang dan sekarang yang berdiri di sampingku adalah seorang ibu yang menggendong anaknya menjulurkan tangannya ke arahku dan temanku yang posisinya duduk di hadapanku. Ndoel, biarkan aku perkenalkan nama temanku itu pada kalian. Sopan santun. Aku berpikir, apakah dengan aku pindah tempat duduk yang agak berada lebih dalam semuanya akan berkurang dan aku menjadi orang biasa bukan lagi seorang yang artis dalam pemaknaanku sendiri.

Pindah tempat duduk.

Baru sekitar beberapa detik duduk, sekarang tidak hanya orang-orang dewasa yang ingin bertemu denganku tapi seorang anak kecil menadahkan tangannya tepat di hadapan wajahku. Berlalu adik kecil, sekarang seorang yang laki-laki namun tidak suka saat dipanggil ‘mas’. Dengan pakaian rok pendek dan suara agak berat dia bernyanyi dan pada akhirnya tempat tadahan uang dari potongan bawah botol air mineral ditujukan sekarang bukan di depan wajahku tapi di antara mata kanan dan telingaku. Alhasil jika kuhitung dengan harga makanan yang kami pesan itu sudah bisa membayar setengahnya.

Kami pengunjung di sana khususnya aku dan Ndoel, bukannya tidak tulus, tapi sekarang aku bingung apakah aku bisa tenang karena dari sebelum makanan datang sampai makanan kami masuk semua ke dalam perut sesibuk itu pula tadahan-tadahan menghampiri kami. Bukan juga pelit tapi kami memang harus dengan tegas mengangkat tangan kami menandakan kami tidak bisa memberikan uang pada kalian. Akhirnya, perut kenyang namun hati tambah lapar sampai membuat pikiranku tenggelam antara gerbang emosi dan usaha penenangan diri dengan menyelami pemaknaan dalam kehidupan orang-orang tadi. Aku mengambil keputusan untuk cepat meninggalkan tempat itu dan terpaksa merebut waktu Ndoel yang sedang membaca majalah untuk segera ‘cabut’ dari tempat itu.

Aku perlu aroma terapi.

Aku ambil langkah-langkah memasuki suatu Plaza yang didalamnya aku yakin ada yang menjual aroma terapi, aku membutuhkannya. Setelah bertanya-jawab dengan penjualnya maka aku memutuskan untuk membeli aroma terapi yang bertuliskan MAC CHAMPA. Ku bawa pulang dengan perasaan agak tenang karena setelah sampai kos aku akan menaruhnya di atas tatakan kecil dan tiduran dengan aroma yang akan membawa pikiranku ke arah yang hanya bertuliskan bebas hambatan.

Di Kamar kos.

Dengan semangat ku taruh semua bunga kering yang beroma terapi itu dengan harapan yang besar bahwa akan aku dapatkan juga aroma yang semerbak. Tebak! Aroma itu hanya bisa tercium jika hidungku berjarak kira-kira 4cm dari benda itu. Oh! Aku mendapatkan diri bahwa sekarang aku tidak lagi berdiri di antara gerbang emosi dan gerbang penenangan diri tapi memang sudah masuk ke dalam dunia emosi. Aku emosi. Ku sadari mulutku bergumam tidak jelas. Sekarang aku berjalan terus menapaki jalur kepasrahan dengan didampingi setia oleh tawa kecil Ndoel yang melihatku di jalur kecewa.
Dasar nakal. Dia menertawaiku.

Hari ini berawal pada posisi dan ditengahi oleh asumsi lalu berakhir pada emosi. Melelahkan. Sadar, yang aku butuhkan hanya tidur.

Zzzzzzzzz . . .



on Thursday, August 20, 2009 at 11:12am

LETTER

Dear you who called friend.
There's secret i want to tell you.
The secret, there's no one know.

About the sky,,,
If we look at the sky, we can not feel anything.
But,
if we see it, we can feel a lot of love.
Do you believe me?

About the rainbow 'cai hong',,,
When we count it's colour, we only have one feel.
But,
when let the rainbow put it self into our life, we can have this life forever.
Do you feel like me?

About the time 'dian',,,
I run into the time, zero… i don't have it.
So...
now i'm sitting and let’s the time giving me
the best thing for me...
The best thing is 'i'm still alive'.
Do you want it?

Just be a great care giver for the people, animal, flower until the thing and you feel it.

Dear me who called Awei…
Don’t change your mind, Wei

Thursday, August 20, 2009 at 10:59am

MON

Maria…Ave Maria…

Menandakan tanganku akan terbangun lalu menyambar suatu alat bernilai tidak lebih dari enam ratus ribu rupiah, berwarna hitam dengan tombol berwarna hijau, merah dan banyak tombol yang berangka nol sampai sembilan seperti kalkulator yang tidak mengikutsertakan sin, cos, tan dan berbagai constanta science lainnya. Namun tanganku memilih untuk tombol hijau. Hanya dengan menekan tombol hijau itu tersambunglah dua orang yang dipisahkan oleh selat sunda. Mama-aku. Berbeda pulau. Melewati beberapa propinsi. Bangka Belitung-DIY. Pangkalpinang(nama kerennya Pinkong City)-Yogyakarta(nama bekennya Kota pelajar). Dan berakhir di jalan Bukit Intan – dan ragaku baru saja bangun di jalan paingan yang terkenal dengan belakangnya perumahan Elite Casa Grande.

Halo…Kusapa dengan jiwa yang masih harus aku kukumpulkan karena sebagian masih dalam alam mimpi tak berbentuk. Seharusnya kuucapkan juga selamat pagi. Tapi tidak kulakukan. Tak terbiasa dalam kamus orang tuaku. Jadi tak kulakukan.

Pembicaraan yang mengambil tema pernikahan, tiket, dan Bali. Berakhir pada perkataanku yang sedang berpikir rasional karena aku belum mendapat ijin dari dosenku untuk meloloskan diri dari acara pembekalan KKN tanggal 11-12 Juni 2009. Pernikahan kakak sepupuku terjadi pada dua sepupu menyimpulkan bahwa terjadi bookingan pernikahan dua kali untuk aku hadiri. Tanggal 7 Juni dan 14 Juni. Pastinya 2009 di Jakarta. Setidaknya harus kulewati lagi kurang lebih dua propinsi untuk sampai di Jakarta. Jawa tengah – Jawa Barat. Bali, tiket yang telah dipesan oleh kakak sepupuku juga tapi bukan yang menikah untuk sekadar mengisi waktu jenuh di antara dua pernikahan itu. Tiket sudah dibeli walau kepastian dosen belum kudapati. Pasrah akan hangusnya tiket perjalananku jika dosen berkata tidak. Jam 12 nanti janji bertemu dengannya untuk tahu apakah tiket Baliku hangus atau tertelan oleh kehadiranku di tanah Bali.

Kupaksa angkat tubuhku yang kian melar dari hari ke hari. Entah apa karena sugesti karena kemarin tidak fitness atau memang aku terlalu sadar karena beratku enam puluh lebih sedikit. Jangan percaya akan kata sedikitku tadi. Menyambar gayung, bergerak menuju tempat yang paling kusukai untuk merenung. Kamar mandi. Bilik termenung. Air yang terbuang beberapa gayung, beberapa cc sabun yang akhirnya membentuk gelembung sabun membuatku terkenang akan mata kuliah tegangan permukaan oleh karena adanya pengaruh kohesi dan adhesi. Tema yang juga judul skripsi yang harus kuselesaikan.

Jam menunjukkan pukul 09.13. Rell…Rell…Firella Tanshella…

Suara yang paling exist kudengar dalam keseharianku. Deasy. Berteman dengannya memiliki banyak keuntungan yang sebanding dengan menonton TV kisaran jam ibu-ibu rumah sebelah. Orang yang paling update akan berita-berita dari mulai selebritis sampai penjagal nyawa makhluk hidup yang bernama manusia. Untuk semua berita-berita itu lebih aku kenal dengan sebutan gossip. Ku hentakkan kakiku dengan berikrar pada gaya gravitasi untuk menuruni tangga boardinghouseku alias kost. Dan tak mengucapkan selamat pagi. Tujuan utama adalah perpustakaan. Begitu banyak buku yang kami berdua pinjam. Tak kusalahkan jika IP-ku menunjukkan angka 3 ke atas tapi akan kupersalahkan jika menyimpulkan buku-buku itu aku baca dan pahami. Tidak. Cuma sebagai pegangan yang menganggur dan berkerja aktif jika dosen berkata untuk membuka halaman sekian dan sekian. Batas pengembalian buku yang terlambat dan dikenai denda. Keterlambatanku dan keterlambatan Deasy, keterlambatan kami yang disadari menunjukkan jumlah hari sebanyak 317 hari. Hari dikalikan dua ratus rupiah. Bernilaikan Rp 63.400,- . Denda yang harus kami berdua bayar yang juga sebanding dengan creambath untuk dua orang di salon samping kampus. Mungkin masih ada kembaliannya. Tapi kenyataannya kami habiskan untuk denda.

Jam pagi berganti jam siang. Menandakan matahari meninggi. Padahal Bumi yang berputar. Mengarahkan laju pikiranku untuk makan siang walaupun tidak diawali dengan makan pagi. Deasy sudah pulang dari tadi dan aku sendiri. Jangan terburu-buru mengasihaniku. Makan sendiri paling aku sukai. Mungkin terbiasa. Pastinya terbiasa. Dompet berbicara lain soal makanan. Karena ini jaman yang tidak mungkin lagi untuk berburu dan makan dengan tidak memakai alat tukar yang berbahan kertas dan logam, bertuliskan angka, bergambar, dan yang terpenting terbalut benang pengaman yang menyatakan kertas ini sebagai lembaran yang sah untuk jual beli dari yang bernyawa sampai yang memang tidak bernyawa. Uang.

Pertemuan dengan dosen menemui jawaban akan pengijinan yang ia keluarkan untukku. Bali tunggu aku. Tiket sebagai jelmaan uang tidak jadi hangus. Lega.

Selesai menukarkan uang untuk makan. Berpikir keras untuk segera angkat berdiri menjauh dari tempat dudukku dan berkendara pulang. Motor dengan plat nomor BN. Motor dari Bangka. Saat kusiap berkendara mataku tertuju pada speedometer. Bukan, bukan speedometer karena belum ada pergerakan motorku terhadap tempat motorku terparkir. Agak ke sebelah kanan, jarum penunjuk berisyarat seakan-akan dia tahu aku pasti mengerti isyaratnya sekalipun aku tidak pernah belajar bahasanya. Jarum penunjuk berada di huruf yang paling tidak diminati oleh banyak mahasiswa selain F, D dan C. Dia adalah E. Artinya aku harus menunggangi motorku menuju tempat yang berwarna merah dan putih dengan seragam pegawainya bertuliskan ‘Pasti Pas’ dan dilarang merokok. Mengisi bensin. Usai mengikuti pengaplikasian mata pelajaran PPKN yang selama ini kuterima. Antri untuk bahan bakar motorku, aku pulang dengan kelelahan dan kuambil inisiatif untuk berbaring dan akhirnya kebablasan. Ngorok. Tidak. Aku belum pernah ngorok. Belum pernah dengar langsung maksudku.

Detik menjadi menit pada hitungan keenam puluh dan berganti jam pada hitungan keenam puluh juga berdiam diri melihatku terkapar dengan wajah lugu tak berdaya. Entah ke mana perginya jiwaku.

Drrrrr….drrrrr….drrrrr

Itulah efek yang ditimbulkan oleh handphone yang ku aktifkan profil ‘silent’. Di menit awal pendengaranku akan getarannya, namun hanya sebentar. Ternyata alarm. Sejenak aku memusatkan pikiranku yang masih terhanyut oleh kantuk. Apa tanda alarm ini. Karena aku terlalu pintar maka kuambil langkah yang sigap dan cepat ke arah bilik termenung untuk mencuci muka serta gosok gigi. Aku mau pergi cari makan. Itulah alasan alarmku berbunyi. Dompetku berbunyi sendu lagi.

Menjelang pukul 11 malam.

Tek.Tik. Cek. Gek. Tik…

Sebuah ritual sehari-hari yang harus dilakukan sebagai refleksi kehidupanku setiap hari. Ketikan yang terlatih pada keyboard komputerku. Sekaranglah kutulis semua yang terjadi hari ini tertanggal 3 Juni 2009. Dan jika ditanya apa judul untuk cerpen hidup hari ini, dengan tegas kusebutkan ‘ Uang ‘. Judulnya Uang. Dari semua keseharian yang telah kulewati hari ini, dari pagi sampai malam hari, semuanya berpautan mesra dengan uang. Dan aku tahu mengapa aku mencetak begitu banyak angka di menit dan pernah sampai jam hanya untuk berada di kamar mandi kostku karena di sanalah aku dapat sejenak berbaikan dengan namanya ‘uang’.

Bilik termenungku.

on Friday, August 14, 2009 at 12:47pm

TIME

Ku lihat jam tanganku dengan dua alisku yang berkerut mendekati titik tengah dahiku. 12: 34: 56. Tanda berpikir. Kuputar cepat tubuhku lalu kucondongkan ke arah kalender yang terpampang di kamar kosku. Tanggal 7 Agustus 2009. 7-8-’09. Sepertinya ada sesuatu yang mengajakku untuk berseru dalam otakku. Yup, ini keren coba perhatikan dengan seksama 12:34:56----7-8-’09. Logikanya angka itu semua berurutan 123456789. Sesuatu yang hanya terjadi sangat singkat dalam perubahan detik saja semua berubah. Satu kali dalam kehidupanku. Jika aku ingin mengulangnya, terbang saja menuju tempat yang lebih lambat waktunya dari tempatku berpijak sekarang, Yogyakarta. Misalnya ke Amerika yang lebih lambat sekitar 8jam.

Einstein . . .

Kata salah satu ilmuwan itu bahwa kita tidak hanya berhadapan dengan panjang tapi juga ruang dan waktu. Sekarang tidak hanya alisku yang berkerut tapi mataku sudah hampir juling karena dari tadi melihat deretan angka tadi yang kuabadikan dalam selembar kertas buram. Aku adalah salah satu anak manusia yang terdonori darahnya dari kecil oleh sosok kartun jepang yang terkenal dengan pintu kemana saja. Doraemon. Begitu banyak pertanyaan yang lewat di pikiranku menunggu untuk diambil dan dikaji lebih lanjut. Selang beberapa detik dengan sigap kuambil satu kalimat pertanyaan dalam otakku. ‘Apakah alat pengatur waktu untuk mengulang atau memajukan waktu itu ada dan bisa dibuat?’. Pertanyaan yang dangkal. Lalu kupikirkan lagi dan tiba-tiba satu pernyataan bergandeng erat dengan pertanyaan mengapung di permukaan pikiranku. ‘Jika alat itu ada pun, apa yang ingin aku lakukan dalam kehidupanku, ingin mengulang masa lalu ataukah ingin memajukan waktu ke masa depan, bagaimana jika dengan seenaknya bisa berbuat salah lalu memutar balikkan lagi dan menghapus semua kesalahan-kesalahan itu’ (aku tidak tahu kalimat ini harus diakhiri dengan tanda tanya atau titik).

Masih berpikir.

Sebelumnya, aku begitu banyak masa lalu yang aku anggap jelek dan berharap bisa memperbaiki dengan mengulang waku. Tapi serasa tertampar, apa setelah aku mengulangnya dan memperbaikinya, semuanya akan baik-baik saja, setidaknya lebih baik dari yang sekarang aku miliki? Dan apakah setalah semuanya terulangi aku akan berkata puas?

Dasar diriku yang adalah manusia . . .

Semuanya jadi tidak terlihat mudah dari sudut pandang manusia seperti diriku yang selalu mengambil keputusan dalam bayang puas atau tidak puas.

Satu hal yang baru kusadari bahwa dari tadi aku berpikir sampai sekarang aku masih berpikir, waktu terus berjalan angkuh. Aku heran ada sesuatu yang begitu cuek dan angkuh. Terus berlalu walau dia tahu banyak orang memerlukannya sejenak untuk berhenti dari kepenatan dunia, yang dengan cerdasnya dibuat oleh manusia-manusia itu sendiri. Aku tidak tahu apakah di kerajaan para hewan juga merasakan hal yang sama kerajaan para manusia. Angkuh sekali. Berjalan tanpa ada sesaat menoleh ke belakang atau pun melirik ke kanan dan ke kiri. Padahal banyak yang mengejarnya seitap hari tapi tetap saja tidak dia hiraukan. Kadang terasa dia berjalan berirama tenang, terkadang terasa seakan aku juga ikut berlari mengejarnya. Sampai di titik penantian sungguh terasa dia berjalan sangat lama, langkah-langkahnya begitu berat, ingin sekali ku tarik dia agar cepat berjalannya. Namun dari hari ke hari tetap saja dia angkuh sekali. Siapa sich yang menamainya ‘waktu’?

Silsilah keluarga sang waktu.

Sebenarnya siapakah orang tuanya? Di manakah tempat kelahirannya? Mengapa dia tidak bisa mati? Karena dari dulu dia hanya berjalan saja dengan angkuh seakan-akan ingin menunjukkan pada dunia dan seisinya bahwa hanya dialah yang akan hidup terus dan awet muda di kalangan usia-usia para manusia. Dia menjadi saksi dari berbagai hal, dari saat suara tangis seorang bayi menghirup oksigen dunia fana ini sampai bayi tersebut menjadi seorang manusia yang tidak berdaya dan menghembuskan napas penghabisannya. Saat anak manusia merasakan indah dan rapuhnya jatuh cinta, saat orang-orang meneteskan airmata duka ataupun suka mereka. Sungguh sombong dirinya menjadi saksi begitu banyak hal tertawa, bersua, bersuka, berduka sampai kalanya ada yang berdarah. Dia menjadi saksi yang tidak mau bersuara.

Jika kamu punya hati sedikit saja maka ingatlah dari begitu banyak manusia yang tak menyadari kehebatanmu, ada seorang gadis yang tidak ingin mengulang dan memperbaiki masa lalunya ataupun memburu masa depannya karena dia ingin berdamai dengan dirimu dan menganggapmu sebagai teman sejatinya sampai kulitnya keriput dan tulang-tulangnya tak sekokoh saat dia berlarian dengan bola basketnya sampai akhirnya dia pun menghembuskan simfoni syukur karena kamu menemaninya dan mau menjadi temannya yang baik dalam hidupnya yang hanya sekali di tubuh ini.

“Jadilah temanku, waktu.”


on Friday, August 14, 2009 at 12:45pm

XIE XIE NIN XIANG XIN

Pagi ini, hari ini . . .

Hari di mana ku sadari ada mentari yang begitu manis menyapaku. Saat aku melaju bersama pipi di atas aspal jalan layang. Sebelum aku lanjutkan lebih dalam, perlu diketahui pipi adalah kendaraan yang dapat menghantarku dengan dua kakinya yang bundar. Dua kaki yang berlapiskan karet, yang baru berumur muda beberapa bulan saja. Keturunan kulit hitam dengan tubuh yang langsing, sejenis bebek yang langsing dan yang jelas dia masih mengeluarkan asap sambil mengaum cempreng. Pipi motor 2 TAK.

Okay, aku bingung hanya karena melihat mentari pagi ini saja sudah dapat membuatku sangat bersemangat. Dia seolah-olah berkata padaku dengan kencang alias ‘berteriak’ kalau hari ini indah dan hangat. Baru kali ini aku bisa mengerti bahasa yang benar-benar asing, bahasa mentari.
Kulibatkan hariku dengan semangat dan senyum di tempat kerja. Sebelum akhirnya jam kerjaku habis bersamaan dengan datangnya hujan yang tak diundang. Aku melaju di bawah hujan rintik berusaha memenangkan perlombaan balap motor tapi lawanku kali ini adalah rintik hujan yang bisa kapan saja berubah menjadi hujan deras.

Aku kalah.

Di lap terakhir aku benar-benar terguyur olehnya. Tapi ada kepuasan tersendiri yang luar biasa saat kupalingkan wajah sedikit menengadah ke atas. Dia masih dapat terlihat dengan indah, gagah sekali sinarnya di tengah raih hujan yang mendesir tersentuh oleh angin. Dia masih mempercayaiku walau kali ini dia tidak berteriak tapi dia tersenyum dan berkata lembut, “kamu hebat.”

Malam menjemput . . .

Kokok ayam menyambut pagi disertai bau yang paling aku sukai, hio . . .
Hari ini yang kemarin aku namakan hari esok. Kali ini aku ingin melihat apakah dia manis seperti hari kemarin. Layaknya hari itu yang sebenarnya menjadi hari ini juga sewaktu kemarin hari. Melaju gesit di atas jalan layang yang sama.

Dia tersembunyi apa tersembunyikan?

Kabut menutupi hampir semua langit yang terlihat olehku. Hawa embun pagi menyapaku kali ini tidak hangat sama sekali.

Kamu di mana, mentari?

Apa kamu punya masalah pagi ini?

Atau kabut-kabut itu memaksamu untuk melenyapkan sinarmu?

Aku tetap melaju dengan otakku yang dipenuhi kekhawatiran. Ku tengadahkan kepalaku, dia tidak ada. Ku ambil nafas sambil berhenti di lampu merah, benar-benar persimpangan yang besar seperti persimpangan yang harus kita pilih dalam menjalani hidup kita. Tapi bukankah banyak yang melanggar lampu merah? Ehm, boleh juga kalau tidak ada polisi. Aku tersenyum simpul. Kurasa begitu juga kehidupan terkadang perlu melangggar rambu-rambu yang dibuat masyarakat saat tak ada polisi kehidupan yang melihatku. Hidup yang berani untuk berwarna.

Sekali lagi kupalingkan mataku melihat kiri dan kanan langit yang berkabut itu, dia tak nampak sama sekali. Sekali lagi ku perjuangkan harapanku pagi itu, ku pejamkan mataku sambil menengadahkan kepalaku benar-benar membentuk sudut 90 derajat lalu kubuka mataku perlahan. Dia tak jelas terlihat tapi sulit dibayangkan karena dari semua mega-mega yang berkabut, hanya ada satu wilayah kecil tepat di atasku mengeluarkan sinar kabur. Sinar kabur itu sekarang berbisik padaku, “terima kasih atas hari ini karena kamu juga mempercayai kalau aku tetap ada untukmu. “

Aku tersenyum sungguh itu adalah senyumku yang paling tulus seperti saat kulihat senyumku waktu kecil. Kuperintahkan tangan kananku untuk segera menjalankan pipi sembari hati berkata, “terima kasih kembali karena membuatku berani untuk mempercayaimu.”


on Thursday, August 20, 2009 at 10:57am